Review Kuta Alam Peaberry: Si Kopi Lanang

Pernah denger istilah “Kopi Lanang” atau Peaberry? Kalau lo sering nongkrong di warkop atau roastery lokal (baca kenapa roastery lokal bakal hits tahun ini), pasti pernah sekali dua kali denger istilah ini. Katanya sih, khasiatnya bisa nambah stamina (namanya juga “Lanang”/Laki-laki).
Tapi bener nggak sih rasanya beda? Atau cuma gimmick marketing aja?
Minggu ini, meja kerja gue kedatangan amunisi baru: Peaberry Gayo dari Kuta Alam Roastery. Mumpung barangnya ada, yuk kita bedah tuntas, mulai dari mitosnya sampai rasa aslinya di lidah.
Apa Sih Peaberry Itu? (Edukasi Dikit)
Banyak yang ngira Peaberry itu varietas pohon kopi baru. Padahal bukan.

Biar gampang, bayangin gini:
- Kopi Biasa (Flat Bean): Ibarat Anak Kembar. Dalam satu buah ceri kopi, normalnya ada dua biji yang tumbuh hadap-hadapan. Karena desak-desakan, bentuknya jadi gepeng di satu sisi. Ini adalah 95% kopi yang kita minum sehari-hari.
- Peaberry (Kopi Lanang): Ibarat Anak Tunggal. Karena kelainan alami, cuma satu biji yang tumbuh di dalam buahnya. Karena nggak ada saingan, dia tumbuh membulat (lonjong) dan menguasai seluruh nutrisi sendirian. Jumlahnya langka, cuma sekitar 5% dari total panen.
Secara logika, karena dia menyerap nutrisi sendirian, rasanya dianggap lebih intens dan body-nya(Yang bingung soal istilah body cek disini ya) lebih tebal dibanding “saudara kembar”-nya.
Profil Produk: Kuta Alam Peaberry
Oke, cukup teorinya. Sekarang kita liat barangnya.
- Origin: Gayo, Aceh (Dataran Tinggi).
- Jenis: Arabika Peaberry (Biji Tunggal).
- Roast Profile: Medium to Dark.
Pas kemasannya dibuka, aromanya langsung nyegrak wangi. Bukan wangi bunga-bungaan, tapi wangi yang “laki” banget: Smoky, rempah, dan ada sedikit aroma manis gosong (burnt caramel). Khas banget kopi Gayo yang disangrai agak gelap.
Uji Rasa & Kalibrasi (The Taste Test)
Nah, ini bagian serunya. Karena profilnya Medium to Dark, gue harus hati-hati banget sama suhu air. Kopi sangrai gelap itu ibarat “barang pecah belah”, dia rapuh dan gampang banget gosong kalau kena air kepanasan.
Awalnya gue coba seduh di suhu standar 88°C. Hasilnya? Burnt! Rasa pahit gosongnya nonjok banget, nggak enak. Gue coba akalin dengan gilingan yang lebih kasar (biar ekstraksi lebih cepet) pakai suhu yang sama, eh malah hambar kayak air bilasan.
Akhirnya, gue nemu sweet spot-nya: Suhu Rendah (78°C – 82°C). Yap, serendah itu. Dan hasilnya… Magic!
Pas gue seduh di suhu 80-an derajat ini:
- Flavor (Rasa Dominan): Rasa gosongnya hilang total. Yang keluar justru rasa Dark Chocolate yang smooth dan manis. Ada sedikit sensasi Rempah (Spicy) hangat di ujungnya.
- Acidity (Keasaman): Asamnya sangat minim, nyaris nggak ada. Aman banget buat lambung.
- Body (Kekentalan): Teksturnya bulat dan tebal. Karakter “Kopi Lanang”-nya kerasa banget di sini, mouthfeel-nya penuh di mulut.
Kesimpulan: Layak Beli?
Kopi Peaberry Gayo ini cocok banget buat lo yang:
✅ Cari teman begadang buat kerja lembur atau push rank (rasanya nendang!).
✅ Pecinta kopi tubruk yang mau beralih ke V60 tapi nggak suka rasa asam.
✅ Suka kopi susu (Karena rasanya tebal, kopi ini nggak akan “kalah” kalau dicampur susu kental manis sekalipun).

Catatan Penting: Kalau lo beli beans ini, saran gue jangan seduh pakai air mendidih. Tunggu agak adem dulu (sekitar 80°C) biar manis cokelatnya keluar!
Skor Pribadi: 8/10. Definisi “Kecil-kecil cabe rawit”!
