Resep George Jinyang Peng, Juara WBrC 2025: Solo Dripper, Melodrip, dan Permainan Suhu

Di World Brewers Cup (WBrC) 2025 yang digelar di Jakarta pada Mei 2025, George Jinyang Peng dari China membawa pulang gelar juara dunia. Resepnya menarik karena kuncinya bukan trik rumit, tapi suhu: dua tuangan pertama memakai air 96°C, lalu tuangan terakhir turun ke 80°C lewat Melodrip. Suhu sajiannya pun ikut diatur, bukan asal diminum selagi panas.
Selisih George dengan peringkat dua, Bayu Prawiro dari Indonesia, hanya sembilan poin, jadi kemenangan ini terasa dekat sekali buat kita. Di artikel ini Jelajah Kopi membedah resepnya langkah demi langkah, lengkap dengan cara menyesuaikannya di rumah.
Menurut World Coffee Championships, George menang lewat kombinasi presisi, cerita yang kuat, dan seduhan yang menonjolkan kejernihan sekaligus kompleksitas rasa.
Penasaran dengan juara-juara sebelumnya? Lihat Daftar Lengkap Juara WBrC dari Tahun ke Tahun.
Persiapan alat dan bahan
Resep ini butuh presisi, jadi siapkan semuanya dulu di meja seduh. Angka di bawah adalah resep yang dipakai George saat jadi juara.
| Bahan atau alat | Takaran atau spesifikasi |
|---|---|
| Kopi | 15 g |
| Air total | 210 g (rasio sekitar 1:14) |
| Tuangan 1 dan 2 | 120 g air 96°C (30 g lalu 90 g) |
| Tuangan 3 | 90 g air 80°C, lewat Melodrip |
| Kualitas air | Sekitar 40 ppm TDS (mineral rendah) |
| Gilingan | Sekitar 800 mikron (kira-kira 26 sampai 27 klik di Comandante C40) |
| Dripper | Solo Dripper |
| Filter | Filter tanpa bypass (George memakai Sibarist FAST) |
| Alat tambahan | Melodrip, termometer, timbangan, gooseneck kettle, server |
| Cangkir saji | Keramik yang sudah dipanaskan |
Total waktu seduhnya sekitar 1 menit 45 detik. Soal kopinya, George memakai campuran tiga profil sangrai dengan porsi sama, 5 g untuk tiap profil. Versi yang lebih mudah ditiru di rumah ada di bagian tips adaptasi. Angka di atas mengacu pada resep yang dibagikan Jackie Tran, desainer Solo Dripper, lengkap dengan videonya.
Kenapa Solo Dripper, Melodrip, dan suhu bertahap?

Ide utama resep ini adalah suhu sebagai alat rasa: air panas di awal untuk membangun manis dan struktur, lalu air lebih dingin di akhir untuk menjaga aroma dan mengurangi sepat. Tiga perlengkapan berikut membantu ide itu berjalan.
Solo Dripper. Dripper ini dirancang oleh Jackie Tran. Bodinya dari plastik PCTG yang ringan (sekitar 45 g) dan tidak banyak menyerap panas, sehingga suhu di dalam hamparan kopi lebih stabil. Sudutnya 40° dengan rusuk di bagian dalam, supaya kopi terbasahi merata dan aliran air bersih.

Filter tanpa bypass. George memakai Sibarist FAST. Pada dasarnya filter jenis ini membuat air lebih banyak melewati bubuk kopi, bukan lolos lewat sisi tanpa menyentuhnya.
Melodrip. Alat ini memecah kucuran air jadi tetesan halus, sehingga turbulensi di dalam dripper berkurang. Karena George memakainya untuk tuangan terakhir yang suhunya turun ke 80°C, gabungan air lebih dingin dan tetesan lembut ini membantu menjaga aroma bunga dan menekan rasa sepat.

Ada satu detail kecil tapi penting: sebelum menuang, George mengalirkan air panas lewat leher teko dulu. Leher teko logam menyerap panas, jadi tanpa langkah ini air bisa sudah turun suhu begitu menyentuh kopi.
Langkah seduh ala George Jinyang Peng
Totalnya tiga tuangan, dan timbangan harus sudah di-tare sebelum mulai. Karena resep ini memakai dua suhu air, siapkan dua teko atau satu kettle dengan pengatur suhu, lalu cek dengan termometer.
- Bloom (0:00). Alirkan air panas lewat leher teko dulu supaya suhu tidak turun, lalu tuang 30 g air 96°C dengan tiga putaran lembut berlawanan arah jarum jam, sekitar 6 detik. Suhu tinggi di awal membasahi hamparan kopi secara merata dan memunculkan keasaman yang hidup tapi lembut.
- Pengembangan (0:30). Tuang 90 g air 96°C selama sekitar 10 detik, sampai timbangan menunjukkan 120 g. Tahap ini membangun struktur, body, dan rasa manis.
- Fase akhir (1:10). Ganti ke air 80°C, lalu tuang 90 g lewat Melodrip sampai timbangan menunjukkan 210 g. Air lebih dingin dan tetesan lembut menjaga aroma bunga serta menekan rasa sepat.
- Selesai dan sajikan (sekitar 1:45). Setelah air habis menetes, diamkan kopi di server sampai suhunya 65°C. Tuang ke cangkir keramik yang sudah dipanaskan, sehingga suhu sajian sekitar 50°C. Termometer berguna di sini, sekaligus untuk mengamati perubahan rasa saat kopi mendingin.
Cerita di balik kemenangan: Jakarta, Gesha, dan tiga sangrai
WBrC 2025 di Jakarta mencatat rekor, dengan peserta dan juri terbanyak dalam sejarah kompetisi ini (lebih dari 50 peserta dan lebih dari 90 juri). Menurut World Coffee Championships, George menang lewat kombinasi presisi, cerita yang kuat, dan seduhan yang menonjolkan kejernihan sekaligus kompleksitas rasa. George sendiri roaster dari Captain George Coffee Roasters, China.
Kopinya luar biasa. George memakai Gesha natural dari Mount Totumas, Panama, yang bernilai 94,5 poin dan terjual sekitar USD 3.422 per kilogram di lelang tahun itu. Kebunnya ada di ketinggian 1.900 meter, di lahan yang dulunya padang rumput dan direboisasi sejak 2008.
Satu kopi, tiga sangrai. Biji yang sama disangrai dalam tiga profil berbeda, lalu dicampur dengan porsi sama (5 g tiap profil). Satu profil untuk kejernihan bunga, satu untuk karakter buah matang, dan satu untuk manis serta struktur. Hasilnya cangkir yang berkembang bertahap: bunga di depan, buah yang juicy di tengah, dan penutup manis yang halus.
Selisih tipis dengan wakil Indonesia. Bayu Prawiro dari Indonesia finis di peringkat dua, hanya terpaut sembilan poin dari George. Buat pembaca Jelajah Kopi, ini bikin resep juara dunia ini terasa lebih dekat.
Tips menyesuaikan di rumah dan troubleshooting
Bagian ini saran dari Jelajah Kopi, bukan bagian dari resep George. Biji Gesha seharga itu jelas bukan target realistis, jadi pakai satu kopi light roast dari dataran tinggi untuk belajar pola suhunya dulu. Meniru campuran tiga sangrai juga sulit dilakukan di rumah.
- Air. Resep asli memakai air sekitar 40 ppm. Kalau belum punya, campur air suling atau demineral dengan air mineral kemasan, lalu cek dengan TDS meter.
- Suhu sajian. Tanpa termometer, tunggu sekitar satu menit setelah tetesan terakhir, lalu pindahkan kopi ke cangkir lain supaya lebih cepat dingin.
- Satu perubahan per percobaan. Ubah satu hal saja (gilingan atau suhu), lalu catat hasilnya supaya tahu mana yang berpengaruh.
Kalau hasilnya belum pas, coba ini:
- Terasa sepat, pahit, atau tetesan sangat lambat. Kasarkan gilingan sedikit, dan pastikan tuangan terakhir benar-benar 80°C, bukan lebih panas.
- Terasa tipis atau asam tajam. Haluskan gilingan sedikit, dan pastikan air 96°C masih panas saat menyentuh kopi (alirkan dulu lewat leher teko seperti yang dilakukan George).
Sudah punya Solo Dripper atau Melodrip? Atau kalian punya cara sendiri bermain dengan suhu air? Ceritakan di kolom komentar, dan mari saling berbagi ilmu seduh!
Leave a Reply