Bukan Arabika atau Robusta: Mengenal Kopi Liberika dan Excelsa yang Beraroma Nangka

Di artikel sebelumnya, kita sudah membedah tuntas persaingan dua penguasa pasar kopi dunia: Arabika si asam manis dan Robusta si pahit nendang.

Tapi, tahukah kamu kalau dunia kopi itu nggak cuma hitam dan putih? Jauh di pedalaman hutan dan lahan gambut, ada dua “spesies langka” yang sering dilupakan, tapi punya rasa yang tersendiri.

Bayangkan kamu menyeduh kopi hitam, tapi aroma yang keluar malah wangi buah nangka, dicampur aroma smoky kayu bakar. Aneh? Unik?

Ini yang mau gue bahas, mari berkenalan dengan sisi eksotis dari dunia kopi: Liberika dan Excelsa.

perbedaan kopi arabika robusta liberika dan excelsa

Kopi Liberika: Si Raksasa dari Lahan Gambut

Kopi Liberika (Coffea liberica) pertama kali ditemukan di Liberia, Afrika Barat. Saat ini, produksi Liberika di dunia sangatlah kecil, cuma sekitar 1% hingga 2% dari total pasokan kopi global.

Kenapa disebut “Raksasa”? Semuanya tentang pohon ini serba besar. Kalau pohon Arabika tingginya cuma 1-2 meter bak semak belukar, pohon Liberika bisa menjulang tinggi hingga 9 meter! Bentuk daunnya lebar, dan ukuran biji kopinya (beans) bisa dua kali lipat lebih besar, asimetris, dan berbentuk seperti tetesan air mata raksasa.

Habitat Unik di Indonesia: Tumbuh Subur di Lahan Gambut Yang bikin Liberika spesial di Indonesia adalah tempat tumbuhnya. Kopi ini sangat adaptif dan punya akar yang kuat menembus tanah bergambut yang asam, di mana Arabika dan Robusta pasti akan mati.

Di Indonesia, surga tersembunyi bagi kopi Liberika ada di lahan gambut Tanjung Jabung Barat (Jambi) dan beberapa daerah di Kalimantan.

Profil Rasa Liberika: Love it or Hate it Kalau kamu tipe home brewer yang berani bereksperimen, Liberika wajib masuk daftar seduhmu.

  • Aroma: Sangat menyengat. Aroma yang paling dominan adalah buah nangka matang (jackfruit), durian, hingga aroma tembakau dan smoky (asap kayu bakar).
  • Rasa: Punya body yang tebal (kental) menyerupai Robusta, tapi keasamannya lebih rendah. Rasa Liberika itu polarizing. Sebagian orang menganggapnya sebagai mahakarya rasa yang eksotis, sebagian lagi merasa rasanya terlalu “kacau” untuk sebuah kopi.
trubus edisi 597 agustus 2019 highrest 62 1

Kopi Excelsa: Si “Anak Tiri” yang Misterius

Sekarang kita masuk ke Excelsa. Dulu, para ilmuwan mengklasifikasikan Excelsa sebagai spesies kopi yang berdiri sendiri (Coffea excelsa). Namun, pada tahun 2006, dunia botani merevisinya. Karena kemiripan genetiknya, Excelsa sekarang resmi diturunkan statusnya menjadi bagian dari keluarga Liberika (Coffea liberica var. dewevrei).

Tapi, berdasarkan studi genomik terbaru yang menggemparkan dunia kopi dan dirilis di jurnal bergengsi Nature Plants pada bulan Agustus 2025, sains akhirnya kembali berpihak pada Excelsa. Lewat pemetaan DNA tingkat tinggi, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa Excelsa adalah spesies yang benar-benar berdiri sendiri (Coffea dewevrei), terpisah secara mutlak dari Liberika.

Meski sempat salah kaprah dan dianggap “anak tiri” Liberika selama belasan tahun, Excelsa membuktikan bahwa dia punya habitat dan karakter yang ternyata sangat berbeda!

Profil Rasa Excelsa: Sensasi Asam yang Tart Kalau Liberika berat dan smoky, Excelsa justru tampil dengan profil yang lebih cerah dan menggigit.

  • Aroma & Rasa: Excelsa memiliki aroma yang sering dideskripsikan sebagai tart (asam kecut yang segar seperti buah apel hijau atau berry), namun tetap membawa hint aroma nangka yang samar di belakangnya.
  • Peran di Industri: Karena rasanya yang sangat kompleks dan punya spektrum dark (pekat) sekaligus light (cerah) bersamaan, Excelsa jarang diseduh sendirian (Single Origin). Para roaster biasanya mencampur ( blend ) sedikit biji Excelsa ke dalam campuran Arabika untuk memberikan ekstra “dimensi rasa” dan memperpanjang aftertaste di mulut.
excelsa vs liberica 1024x683

Kenapa Dua Kopi Ini Jarang Ada di Kedai ? Mungkin kamu bertanya-tanya, “Kalau unik, kenapa pas saya ke kedai nggak pernah ada menu Liberika V60?”

Alasannya sangat praktis:

  1. Kulitnya Sangat Tebal: Ceri kopi Liberika dan Excelsa punya rasio kulit dan daging buah yang jauh lebih tebal dibanding biji di dalamnya. Petani butuh tenaga ekstra untuk mengupasnya, dan mesin pengupas (pulper) biasa sering macet kalau dipakai untuk kopi ini.
  2. Kadar Air Tinggi: Butuh waktu jemur yang jauh lebih lama.
  3. Pohon Terlalu Tinggi: Susah dipanen, petani harus pakai tangga panjang.

Tiga hal inilah yang membuat ongkos produksinya menjadi tidak efisien bagi industri kopi massal.

Berani Coba Seduh Sendiri? Bagi penikmat kopi sejati, mencicipi Liberika dan Excelsa adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap keanekaragaman hayati. Ini bukan soal kopi mana yang “paling enak”, tapi soal memperkaya database rasa di lidahmu.

Kalau kamu berhasil menemukan roastery lokal yang menjual biji Liberika atau Excelsa, jangan ragu untuk membelinya! Giling agak kasar dengan grinder manual andalanmu, lalu cobalah seduh menggunakan alat V60. Sensasi aroma nangka yang menguar saat air panas menyentuh bubuk kopinya (blooming) dijamin bakal bikin kamu tersenyum heran.

Setelah mengenal Arabika, Robusta, Liberika, dan Excelsa, sekarang kamu sudah tahu “Empat Raksasa” dalam dunia kopi. Tapi, apa sebenarnya benang merah dari keempatnya? Sebelum ke sana, pastiin kamu udah cek artikel Arabika dan Robusta ya!

Tenang, kita bakal rangkum semuanya dalam Panduan Lengkap 4 Jenis Biji Kopi di Dunia yang akan segera terbit di Jelajah Kopi.

Ada yang pernah nyeduh Liberika atau ngerasain sensasi ngopi rasa nangka? Share pengalaman unikmu di kolom komentar di bawah, ya!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *